> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://www.diskusipajak.com/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# PPh Final atas Penghasilan WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu — PP 55 Tahun 2022
- URL: https://www.diskusipajak.com/p/pph-final-atas-penghasilan-wp-yang-memiliki-peredaran-bruto-tertentu-pp-55-tahun-2022-2/
- Published: 2026-06-16T11:37:39.000Z
- Updated: 2026-06-16T12:08:47.000Z
- Author: Tim Redaksi Diskusi Pajak
- Tags: PPh Final, #Import 2026-07-12 11:34, #Import 2026-07-12 16:37

## 1\. DASAR HUKUM

1. **PP 55 TAHUN 2022** (berlaku 20 Desember 2022) — Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. **Bagian Ketiga — Peredaran Bruto Tertentu (Pasal 56–60)** mengatur PPh Final atas penghasilan WP yang memiliki peredaran bruto tertentu. Mencabut PP 23 TAHUN 2018 dan PP 46 TAHUN 2013.
2. **PMK-164/PMK.03/2023** (berlaku 29 Desember 2023) — Tata Cara Pengenaan PPh atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh oleh WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Menggantikan PMK-99/PMK.03/2018.
3. **PER-37/PJ/2013** (berlaku 30 Oktober 2013) — Tata cara penyetoran PPh final WP peredaran bruto tertentu melalui ATM.

## 2\. SURAT EDARAN & SURAT TERKAIT

- **SE-32/PJ/2014** — Penegasan pelaksanaan PP 46/2013 (Point E: reksa dana = kegiatan usaha). *(Masih relevan sebagai rujukan historis)*
- **SE-38/PJ/2014** — Ralat SE-32/PJ/2014
- **SE-42/PJ/2013** — Pelaksanaan PP 46/2013
- **S-1737/PJ.09/2013** — Fasilitas pembayaran PPh Final melalui ATM
- **S-421/PJ.03/2018** — Pedoman SKB peralihan PP 46/2013 → PP 23/2018

## 3\. KRONOLOGI REGULASI

| Periode                   | Regulasi       | Tarif    | Subjek yang Berhak                                          |
| ------------------------- | -------------- | -------- | ----------------------------------------------------------- |
| 1 Jul 2013 – 30 Jun 2018  | **PP 46/2013** | **1%**   | OP dan Badan (omzet ≤ Rp4,8 M)                              |
| 1 Jul 2018 – 19 Des 2022  | **PP 23/2018** | **0,5%** | OP dan Badan tertentu (omzet ≤ Rp4,8 M)                     |
| 20 Des 2022 – 21 Apr 2026 | **PP 55/2022** | **0,5%** | OP, CV, Firma, PT, Koperasi, PT Perorangan, BUMDes/BUMDesma |

Untuk perubahan PP 55/2022 selanjutnya, lihat catatan terpisah: **PP 20/2026 — Perubahan atas PP 55/2022**.

## 4\. SUBJEK YANG BERHAK MENGGUNAKAN TARIF PPh FINAL 0,5%

WP Dalam Negeri yang memiliki peredaran bruto tertentu dikenai PPh Final sebesar **0,5%** jika memenuhi kriteria: *(Pasal 57 ayat (1) PP 55/2022)*

- **Wajib Pajak Orang Pribadi**
- **Wajib Pajak Badan berbentuk CV, Firma, Koperasi, atau Perseroan Terbatas (PT)**
- **Wajib Pajak Badan berbentuk Perseroan Perorangan** (didirikan oleh 1 orang)
- **Wajib Pajak Badan berupa BUMDes/BUMDesma** (ditambahkan oleh PP 55/2022)

**Syarat peredaran bruto:** Menerima/memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto **tidak melebihi Rp4.800.000.000,00** dalam 1 Tahun Pajak. *(Pasal 57 ayat (1) PP 55/2022)*

**Penjelasan peredaran bruto:**

- Besarnya peredaran bruto = **jumlah peredaran bruto dalam 1 tahun dari Tahun Pajak terakhir** sebelum Tahun Pajak bersangkutan, dari keseluruhan usaha, termasuk cabang. *(Pasal 58 ayat (1) PP 55/2022)*
- Dalam hal WP OP suami-isteri dengan perjanjian pemisahan harta (PH) atau isteri memilih menjalankan kewajiban sendiri (MT) → omzet digabung. *(Pasal 58 ayat (2) PP 55/2022)*

## 5\. JANGKA WAKTU PENGGUNAAN TARIF PPh FINAL

| Subjek                                                  | Jangka Waktu      |
| ------------------------------------------------------- | ----------------- |
| **WP Orang Pribadi**                                    | **7 Tahun Pajak** |
| **Koperasi, CV, Firma, PT Perorangan, BUMDes/BUMDesma** | **4 Tahun Pajak** |
| **Perseroan Terbatas (PT)**                             | **3 Tahun Pajak** |

*(Pasal 59 PP 55/2022)*

**Jangka waktu dihitung sejak:** *(Pasal 59 huruf b PP 55/2022)*

- **Tahun Pajak WP terdaftar**, bagi WP yang terdaftar sejak berlakunya PP 55/2022 (20 Desember 2022); atau
- **Tahun Pajak berlakunya PP 55/2022 (2022)**, bagi WP yang telah terdaftar sebelum berlakunya PP 55/2022.

## 6\. YANG DIKENAKAN PPh FINAL

Atas **penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri** yang **memiliki peredaran bruto tertentu**, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dalam jangka waktu tertentu. *(Pasal 56 ayat (1) PP 55/2022)*

### Penghasilan yang Dikecualikan dari Objek PPh Final

- Penghasilan WP OP dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas *(Pasal 56 ayat (3) huruf a PP 55/2022)*
- Penghasilan yang diterima/diperoleh di luar negeri yang pajaknya terutang/dibayar di luar negeri *(Pasal 56 ayat (3) huruf b PP 55/2022)*
- Penghasilan yang telah dikenai PPh Final dengan ketentuan tersendiri *(Pasal 56 ayat (3) huruf c PP 55/2022)*
- Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak *(Pasal 56 ayat (3) huruf d PP 55/2022)*

### Jasa Pekerjaan Bebas yang Dikecualikan

*(Pasal 56 ayat (4) PP 55/2022)*

- Tenaga ahli (pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris/PPAT, penilai, aktuaris)
- Pemain musik, penyanyi, pelawak, bintang film/sinetron/iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/i, pemain drama, penari
- Olahragawan
- Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, moderator
- Pengarang, peneliti, penerjemah
- Agen iklan
- Pengawas/pengelola proyek, perantara
- Petugas penjaja barang dagangan
- Agen asuransi
- Distributor pemasaran berjenjang/penjualan langsung

## 7\. FASILITAS OMZET Rp500 JUTA BEBAS PAJAK

**Khusus WP Orang Pribadi** — Peredaran bruto sampai dengan **Rp500.000.000,00** dalam 1 Tahun Pajak **tidak dikenai PPh**. *(Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022)*

**Mekanisme:**

- Dihitung secara **kumulatif** sejak Masa Pajak pertama dalam Tahun Pajak.
- Selama akumulasi omzet belum melebihi Rp500 juta → tidak perlu setor PPh.
- Setelah melebihi Rp500 juta → PPh terutang dihitung 0,5% dari omzet per Masa Pajak (bulan) bersangkutan.

**Contoh 1:** Tuan A (WP OP UMKM) memiliki omzet sbb:

- Jan–Jun 2026: Rp400 juta (total kumulatif Rp400 juta — belum melebihi Rp500 juta → **tidak kena PPh**)
- Juli 2026: Rp150 juta (total kumulatif Rp550 juta — melebihi Rp500 juta)
- PPh Juli = 0,5% × Rp150.000.000 = **Rp750.000**

*(Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022 jo. Pasal 7 ayat (5) PMK-164/2023)*

## 8\. WP YANG TIDAK TERMASUK SUBJEK PPh FINAL

Tidak termasuk WP yang memiliki peredaran bruto tertentu: *(Pasal 57 ayat (3) PP 55/2022)*

1. WP yang **memilih dikenai PPh berdasarkan tarif umum** (Pasal 17 ayat (1) huruf a, Pasal 17 ayat (2a), atau Pasal 31E UU PPh)
  - Wajib menyampaikan pemberitahuan ke DJP
  - Untuk Tahun Pajak berikutnya **tidak dapat** dikenai PPh Final lagi
2. WP badan berbentuk **CV atau Firma** yang dibentuk oleh beberapa WP OP yang memiliki **keahlian khusus** menyerahkan jasa sejenis dengan pekerjaan bebas
3. WP badan yang memperoleh fasilitas PPh berdasarkan: **Pasal 31A UU PPh**, **PP 94/2010** atau penggantinya, atau **Pasal 75 dan Pasal 78 PP 40/2021** tentang KEK
4. **Bentuk Usaha Tetap (BUT)**

## 9\. TARIF, DPP, DAN CARA PENGHITUNGAN

**Tarif:** **0,5% (nol koma lima persen)** dari jumlah peredaran bruto setiap bulan. *(Pasal 56 ayat (2) PP 55/2022)*

**Dasar Pengenaan Pajak (DPP):** Jumlah peredaran bruto setiap bulan, yaitu imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau nilai uang yang diterima/diperoleh dari usaha, **sebelum dikurangi** potongan penjualan, potongan tunai, dan/atau potongan sejenis. *(Pasal 6 ayat (2) PMK-164/2023)*

**Rumus:** `PPh terutang = 0,5% × peredaran bruto bulanan` *(Pasal 56 ayat (2) PP 55/2022 jo. Pasal 6 ayat (3) PMK-164/2023)*

**Jika omzet melebihi Rp4,8 M dalam Tahun Pajak berjalan** *(Pasal 60 ayat (3) PP 55/2022)*:

- Atas penghasilan dari usaha **tetap dikenai tarif 0,5%** sampai dengan akhir Tahun Pajak bersangkutan
- Untuk Tahun Pajak berikutnya → dikenai PPh berdasarkan **tarif umum** (Pasal 17 UU PPh)

## 10\. TATA CARA PEMBERITAHUAN MEMILIH TARIF UMUM

WP yang memilih dikenai PPh berdasarkan Ketentuan Umum wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis ke DJP melalui: *(Pasal 3 PMK-164/2023)*

- KPP tempat WP terdaftar
- KP2KP/KPP Mikro dalam wilayah KPP terdaftar
- Saluran tertentu yang ditetapkan DJP (Coretax/DJP Online)

**Batas waktu:** Paling lambat **akhir Tahun Pajak**. Berlaku mulai Tahun Pajak berikutnya. WP yang terdaftar pada tahun berjalan → dapat memilih sejak Tahun Pajak terdaftar dengan pemberitahuan pada saat pendaftaran.

## 11\. TATA CARA PENYETORAN, PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN, DAN PELAPORAN

### A. Setor Sendiri

Penyetoran sendiri wajib dilakukan **setiap bulan** paling lama **tanggal 15 bulan berikutnya** setelah Masa Pajak berakhir. *(Pasal 7 ayat (1) PMK-164/2023)*

**Kode Pembayaran:**

- **KAP 411128** (PPh Final)
- **KJS 420** (PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan dari Usaha WP Peredaran Bruto Tertentu)

**UPDATE CORETAX:** Sejak PMK-81/2024, pembayaran menggunakan **Kode Billing** via Coretax. WP dapat melakukan pembayaran melalui ATM, internet banking, atau teller Bank Persepsi. *(Pasal 4-6 PMK-81/2024)*

### B. Pemotongan/Pemungutan oleh Pihak Lain

Pembeli/pengguna jasa melakukan pemotongan/pemungutan **0,5%** terhadap WP yang memiliki **Surat Keterangan**. *(Pasal 8 PMK-164/2023)*

- Dilakukan untuk setiap transaksi penjualan/penyerahan jasa yang merupakan objek pemotongan/pemungutan PPh
- WP harus menyerahkan fotokopi Surat Keterangan kepada pemotong/pemungut
- Pemotong/pemungut **tidak melakukan pemotongan PPh Pasal 22** atas impor atau pembelian barang dari WP bersangkutan

**Waktu penyetoran:** Pajak yang dipotong/disetor **paling lama tanggal 10 bulan berikutnya** setelah Masa Pajak berakhir. *(Pasal 7 ayat (3) PMK-164/2023)*

### C. Pelaporan

WP yang menyetor sendiri: dianggap telah menyampaikan SPT Masa sesuai tanggal validasi NTPN. *(Pasal 7 ayat (4) PMK-164/2023)*

Pemotong/pemungut: wajib melaporkan dalam **SPT Masa PPh Unifikasi** paling lama **20 hari** setelah Masa Pajak berakhir. *(Pasal 7 ayat (6) PMK-164/2023)*

**UPDATE CORETAX:** Sejak PMK-81/2024 + PMK-1/2026, seluruh pemotongan/pemungutan dilaporkan melalui **e-Bupot Unifikasi** di Coretax. SKB manual dihapus — verifikasi dilakukan secara elektronik. *(Pasal 15-18 PMK-81/2024)*

## 12\. SURAT KETERANGAN

**Fungsi:** Surat yang menerangkan bahwa WP memenuhi kriteria sebagai WP yang memiliki peredaran bruto tertentu. Berfungsi sebagai dasar bagi pemotong/pemungut untuk tidak memotong PPh Pasal 22 dan memotong hanya 0,5% (bukan tarif Pasal 23/22). *(Pasal 1 angka 10 PMK-164/2023)*

### Tata Cara Permohonan

Permohonan diajukan ke KPP tempat WP terdaftar melalui: *(Pasal 4 PMK-164/2023)*

- Langsung ke KPP
- Pos/jasa ekspedisi
- **Elektronik** melalui **Info KSWP** di DJP Online / Coretax

**Syarat:** *(Pasal 4 ayat (4) PMK-164/2023)*

1. Permohonan ditandatangani WP atau kuasa khusus
2. Telah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak terakhir (dikecualikan untuk WP baru)
3. Memenuhi kriteria subjek pajak peredaran bruto tertentu

**Penerbitan:** Paling lama **3 hari kerja** sejak permohonan diterima lengkap. *(Pasal 5 PMK-164/2023)*

### Masa Berlaku Surat Keterangan

| Subjek                                                  | Masa Berlaku      |
| ------------------------------------------------------- | ----------------- |
| **WP Orang Pribadi**                                    | **7 Tahun Pajak** |
| **Koperasi, CV, Firma, PT Perorangan, BUMDes/BUMDesma** | **4 Tahun Pajak** |
| **Perseroan Terbatas (PT)**                             | **3 Tahun Pajak** |

*(Pasal 59 PP 55/2022 jo. Pasal 6 PMK-164/2023)*

### Pengecualian SKB Omzet ≤ Rp500 Juta

WP OP dengan omzet belum melebihi Rp500 juta cukup menyampaikan **surat pernyataan** (Lampiran C PMK-164/2023) — bukan Surat Keterangan. Pemotong/pemungut tetap menerbitkan bukti potong **PPh nihil**. *(Pasal 8 ayat (5)-(8) PMK-164/2023)*

## 13\. ANGSURAN PPh PASAL 25 (Setelah Tidak Lagi Menggunakan PP 55/2022)

WP yang **tidak lagi** dikenai PPh Final berdasarkan PP 55/2022 (karena memilih tarif umum, omzet > Rp4,8 M, atau jangka waktu berakhir) wajib membayar angsuran PPh Pasal 25 mulai Tahun Pajak pertama. *(Pasal 9 PMK-164/2023)*

**Besarnya angsuran untuk Tahun Pajak pertama:**

- WP bank, BUMN/BUMD, masuk bursa → sesuai Pasal 25 ayat (7) UU PPh
- WP lain → **diperlakukan sebagai WP Baru** sesuai PMK-208/PMK.03/2009

## CONTOH KASUS

**Contoh 2 — WP OP dengan omzet di bawah Rp500 juta:** Bu Sari (WP OP UMKM) memiliki usaha katering dengan omzet Rp30 juta/bulan.

- Jan–Mar 2026: Rp90 juta (kumulatif) — belum melebihi Rp500 juta → **tidak kena PPh**
- Omzet tetap di bawah Rp500 juta sepanjang tahun → **tidak perlu setor PPh**
- Cukup menyampaikan surat pernyataan jika bertransaksi dengan pemotong

*(Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022 jo. Pasal 8 ayat (5)-(8) PMK-164/2023)*

**Contoh 3 — WP OP dengan omzet melebihi Rp4,8 M:** Tuan Budi (WP OP, terdaftar 2020) memiliki omzet:

- Tahun 2025: Rp5,2 M (melebihi Rp4,8 M)
- Tahun 2025: tetap dikenai 0,5% sampai akhir Tahun Pajak
- Tahun 2026: **wajib** menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh (tarif umum)
- Wajib menyelenggarakan pembukuan dan menghitung PKP

*(Pasal 60 ayat (3) PP 55/2022)*

---

💡

****UPDATE CORETAX:** Sejak ****PMK-81/2024** \+ ****PMK-1/2026**, pembayaran pajak menggunakan ****Kode Billing** via Coretax. Bukti potong via e-Bupot Unifikasi. Surat Keterangan PP 55/2022 diajukan melalui ****Info KSWP** di DJP Online / Coretax. **(Pasal 4-6 PMK-81/2024 — tata cara elektronik; Pasal 15-18 — bukti potong)*