Kota Makassar: Gerbang Utama Indonesia Timur
panduan mendalam mengenai profil, infrastruktur, dan potensi ekonomi kota terbesar di Indonesia Timur
Makassar, yang pernah dikenal sebagai Ujung Pandang, adalah ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus kota metropolitan terbesar di wilayah Indonesia Timur. Dengan posisi geografis yang sangat strategis di pesisir barat daya semenanjung Sulawesi, Makassar telah berfungsi sebagai pusat perdagangan internasional selama berabad-abad.
Sebagai kota yang memadukan sejarah panjang kesultanan maritim dengan modernitas ekonomi digital, Makassar kini bertransformasi menjadi "Sombere’ & Smart City".
Identitas dan Geografi
Secara administratif, Kota Makassar memiliki luas wilayah sekitar 175,77 km² dengan jumlah penduduk yang melampaui 1,5 juta jiwa. Kota ini berbatasan langsung dengan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Maros di utara dan timur, serta Kabupaten Gowa di sebelah selatan.
Makassar dijuluki sebagai "Kota Daeng" dan dikenal dengan semboyan "Siri' na Pacce"—sebuah filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi harga diri, martabat, dan solidaritas sosial. Secara geografis, kota ini merupakan "titik tengah" Indonesia, menjadikannya penghubung utama arus manusia dan barang antara wilayah barat (Jawa/Sumatera) dan wilayah timur (Maluku/Papua).
Sejarah: Kejayaan Maritim dan Perlawanan
Sejarah Makassar didominasi oleh kejayaan Kesultanan Gowa dan Tallo. Pada abad ke-16 dan ke-17, Makassar adalah salah satu pelabuhan perdagangan bebas terbesar di Asia Tenggara, menyaingi Malaka.
- Ayam Jantan dari Timur: Julukan ini diberikan oleh Belanda kepada Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16, atas keberaniannya melawan monopoli perdagangan VOC.
- Benteng Panyua: Sebelum kedatangan kolonial, Makassar memiliki jaringan benteng pertahanan yang kuat. Salah satunya adalah Benteng Ujung Pandang, yang kemudian direbut Belanda dan berganti nama menjadi Fort Rotterdam.
- Transformasi Nama: Nama kota ini berubah menjadi Ujung Pandang pada tahun 1971 karena alasan politik perluasan wilayah, namun kembali menjadi Makassar pada tahun 1999 untuk menghormati akar sejarah dan identitas lokal.
Landmark dan Ikon Kota: Simbol Kebanggaan
Makassar memiliki sejumlah landmark yang merepresentasikan perpaduan antara sejarah kolonial, religiusitas, dan visi masa depan.
A. Pantai Losari
Inilah ruang tamu bagi warga Makassar. Berbeda dengan pantai pada umumnya, Pantai Losari tidak memiliki pasir di sepanjang tepiannya karena telah direklamasi menjadi pelataran beton yang luas. Landmark ini adalah tempat terbaik untuk menikmati sunset (matahari terbenam) sambil mencicipi kuliner khas. Di sini juga terdapat tulisan raksasa "MAKASSAR" dan "CITY OF MAKASSAR" yang menjadi titik swafoto wajib.
B. Fort Rotterdam (Benteng Panyua)
Terletak di pusat kota, benteng ini adalah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang masih berdiri kokoh. Dilihat dari udara, bentuk benteng ini menyerupai seekor penyu yang hendak turun ke laut. Di dalamnya terdapat Museum La Galigo yang menyimpan ribuan artefak sejarah Sulawesi Selatan, termasuk naskah kuno dan alat-alat maritim.
C. Masjid 99 Kubah
Terletak di kawasan reklamasi Center Point of Indonesia (CPI), masjid hasil desain Ridwan Kamil ini menjadi ikon baru Makassar. Dengan warna-warna cerah dan jumlah kubah sebanyak 99 (melambangkan Asmaul Husna), masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid terunik di Indonesia.
D. Center Point of Indonesia (CPI)
Ini adalah proyek kawasan terpadu hasil reklamasi laut yang luas. CPI diproyeksikan menjadi pusat bisnis dan rekreasi modern, lengkap dengan pantai pasir putih buatan, jalur sepeda, dan area komersial premium.
Pusat Pemerintahan: Jantung Administrasi Sulawesi
Makassar adalah pusat saraf administratif bagi Sulawesi Selatan. Lokasi instansi pemerintahannya tersebar di beberapa titik strategis:
- Kantor Gubernur Sulawesi Selatan: Terletak di Jalan Urip Sumoharjo, kompleks ini merupakan pusat koordinasi pembangunan untuk 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
- Balai Kota Makassar: Terletak di Jalan Ahmad Yani, menempati bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Di sinilah kebijakan-kebijakan strategis mengenai perkotaan, termasuk program Smart City, dirumuskan.
- Kawasan Perkantoran Jalan AP Pettarani: Seiring perkembangan kota, banyak instansi vertikal (seperti Kantor Wilayah Pajak, BPK, dan kantor kementerian) memindahkan pusat operasionalnya ke jalur protokol ini.
5. Sentra Bisnis dan Ekonomi: Motor Penggerak Timur
Sebagai hub logistik, ekonomi Makassar tumbuh di atas rata-rata nasional. Struktur ekonominya didominasi oleh perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi.
A. Koridor Jalan AP Pettarani
Jalan ini adalah "Sudirman-nya Makassar". Di sepanjang jalan ini berdiri gedung-gedung perkantoran, perbankan, dan hotel berbintang. Pembangunan Jalan Tol Layang AP Pettarani (jalan tol layang pertama di Indonesia Timur) telah mempertegas posisi kawasan ini sebagai pusat bisnis utama yang menghubungkan pelabuhan dengan area pemukiman dan bandara.
B. Kawasan Terpadu Tanjung Bunga
Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat pariwisata, hunian kelas atas, dan bisnis. Di sini terdapat Trans Studio Mall Makassar, salah satu pusat hiburan dalam ruangan terbesar yang menjadi magnet ekonomi kreatif dan retail.
C. Kawasan Industri Makassar (KIMA)
Terletak di bagian utara kota, KIMA adalah pusat industri pengolahan. Banyak komoditas unggulan Sulawesi Selatan, seperti kakao, kopi, dan hasil laut, diolah di sini sebelum diekspor melalui pelabuhan. KIMA memegang peranan penting dalam menyerap tenaga kerja dan mendorong ekspor non-migas.
Pelabuhan: Nadi Maritim Dunia
Makassar tidak akan menjadi besar tanpa pelabuhannya. Ada dua fasilitas utama yang menjadi tulang punggung maritim:
Pelabuhan Soekarno-Hatta
Ini adalah pelabuhan penumpang dan petikemas utama yang melayani rute pelayaran nasional (Pelni) dan internasional. Pelabuhan ini merupakan yang tersibuk di Indonesia Timur, melayani bongkar muat logistik untuk wilayah Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Makassar New Port (MNP)
Sebagai proyek strategis nasional, MNP adalah pelabuhan paling modern di wilayah timur. Dengan kedalaman air yang memungkinkan kapal-kapal besar generasi baru bersandar, MNP dirancang untuk menurunkan biaya logistik nasional secara signifikan. MNP diproyeksikan menjadi pesaing pelabuhan di Singapura dan Tanjung Priok dalam hal efisiensi distribusi barang di Pasifik.
7. Bandar Udara: Konektivitas Udara Global
Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin (SHIAM) terletak di perbatasan Makassar-Maros. Bandara ini memiliki arsitektur unik yang terinspirasi dari bentuk kapal Phinisi dan tanduk kerbau (simbol adat).
- Hub Transit Utama: Hampir semua penerbangan menuju Indonesia Timur (Papua, Maluku) melakukan transit di sini.
- Fasilitas Modern: Bandara ini memiliki landasan pacu yang mampu menampung pesawat berbadan lebar (wide body) dan terminal yang luas untuk melayani belasan juta penumpang per tahun.
- Aksesibilitas: Terhubung dengan jalan tol (Tol Ir. Sutami), memudahkan akses dari pusat kota dan pelabuhan menuju bandara dalam waktu kurang dari 30 menit.
Tata Kota, Transportasi, dan Pendidikan
Makassar terus berbenah untuk mengatasi masalah urbanisasi. Salah satu inovasi transportasinya adalah Teman Bus (Trans Mamminasata) yang mengintegrasikan wilayah Makassar dengan daerah penyangga seperti Maros, Gowa, dan Takalar (Konsep Mamminasata).
Selain itu, Makassar adalah Kota Pendidikan. Universitas Hasanuddin (UNHAS) adalah salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia yang menjadi pusat riset maritim dan kedokteran. Kehadiran ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia setiap tahunnya menciptakan ekonomi mikro yang dinamis di sekitar kampus.
Kekayaan Kuliner: Surga bagi Para Gastronom
Bagi pelaku bisnis dan turis, Makassar adalah surga kuliner. Budaya makan masyarakatnya sangat kuat, dengan menu berbasis daging dan hasil laut.
- Coto Makassar: Sup daging sapi dengan bumbu 40 macam rempah (Rempah Patangpulo) yang disajikan dengan ketupat.
- Konro: Iga sapi bakar atau sup iga dengan kuah hitam yang gurih.
- Pallubasa: Mirip dengan coto namun menggunakan parutan kelapa sangrai untuk memberikan tekstur kuah yang lebih kental dan creamy.
- Pisang Epe: Pisang raja yang dibakar, dipipihkan, dan disiram air gula merah. Biasanya dinikmati di sepanjang Pantai Losari.
Tantangan dan Masa Depan
Masa depan Makassar terletak pada kemampuannya mengelola ekonomi biru (kelautan) dan digitalisasi. Dengan adanya Makassar New Port dan pengembangan kawasan CPI, Makassar tidak lagi sekadar kota transit, melainkan destinasi investasi utama.
Tantangan seperti kemacetan di titik-titik pertumbuhan baru dan manajemen limbah pesisir sedang diupayakan solusinya melalui integrasi teknologi. Makassar menawarkan peluang besar dalam bisnis, mengingat banyaknya perusahaan logistik dan manufaktur yang melakukan ekspansi ke wilayah ini.
Makassar adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya tentang Jawa. Kota ini adalah motor, gerbang, dan wajah masa depan Indonesia di panggung maritim dunia.
Comments ()