PPh Final atas Penghasilan WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu PP 23 Tahun 2018

Partner Resmi

đźš«
NOTE: PP 23/2018 sudah tidak berlaku sejak 20 Desember 2022. Note ini bersifat historis untuk referensi pemahaman rantai regulasi UMKM. Berlaku: 1 Juli 2018 – 19 Desember 2022.

1. DASAR HUKUM

  1. PP 23 TAHUN 2018 (berlaku 1 Juli 2018 – 19 Desember 2022) — PPh atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh WP yang memiliki peredaran bruto tertentu. Tarif 0,5% final. Sudah tidak berlaku.
  2. PMK-99/PMK.03/2018 (berlaku 27 Agustus 2018) — Pelaksanaan PP 23/2018 tentang PPh atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
  3. PER-37/PJ/2013 (berlaku 30 Oktober 2013) — Tata cara penyetoran PPh final WP peredaran bruto tertentu melalui ATM.

2. SURAT EDARAN & SURAT TERKAIT

  • SE-32/PJ/2014 â€” Penegasan pelaksanaan rezim final peredaran bruto tertentu (rujukan historis — Point E tentang reksa dana = kegiatan usaha masih relevan)
  • SE-38/PJ/2014 â€” Ralat SE-32/PJ/2014
  • SE-42/PJ/2013 â€” Tata cara pelaksanaan dan pelaporan (berlaku efektif untuk PP 23/2018)
  • S-1737/PJ.09/2013 â€” Fasilitas pembayaran PPh Final melalui ATM
  • S-45/PJ.02/2018 â€” Penegasan perlakuan PPh yang dipotong/dipungut pihak lain (berlaku untuk rezim final peredaran bruto tertentu)
  • S-421/PJ.03/2018 â€” Pedoman SKB pemotongan/pemungutan PPh dalam rangka peralihan ke PP 23/2018
  • S-490/PJ.03/2018 â€” Pedoman SKB pemotongan/pemungutan PPh dalam rangka peralihan ke PP 23/2018

3. SUBJEK YANG DIKENAKAN PPh FINAL

Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai PPh Final dalam jangka waktu tertentu. (Pasal 2 ayat (1) PP 23/2018)

WP yang memiliki peredaran bruto tertentu: (Pasal 3 ayat (1) PP 23/2018)

  • WP Orang Pribadi
  • WP Badan berbentuk koperasi, CV, firma, atau PT
  • Peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam 1 Tahun Pajak

Penjelasan peredaran bruto:

  • Jumlah peredaran bruto dari Tahun Pajak terakhir, dari keseluruhan usaha, termasuk cabang (Pasal 3 ayat (1) PP 23/2018)
  • WP OP suami-isteri PH/MT → omzet digabung (Penjelasan Pasal 3 ayat (1) PP 23/2018)

4. WP YANG TIDAK TERMASUK SUBJEK PPh FINAL

(Pasal 3 ayat (2) PP 23/2018)

  1. WP memilih dikenai PPh berdasarkan tarif umum (Pasal 17 ayat (1) huruf a, Pasal 17 ayat (2a), atau Pasal 31E UU PPh)
  2. WP badan CV/Firma dari beberapa WP OP berkeahlian khusus menyerahkan jasa pekerjaan bebas
  3. WP badan memperoleh fasilitas PPh berdasarkan Pasal 31A UU PPh atau PP 94/2010
  4. Bentuk Usaha Tetap (BUT)

5. PENGHASILAN YANG DIKECUALIKAN

(Pasal 2 ayat (3)-(4) PP 23/2018)

Dikecualikan dari objek PPh Final:

  • Penghasilan WP OP dari jasa pekerjaan bebas
  • Penghasilan luar negeri
  • Penghasilan telah dikenai PPh Final tersendiri
  • Penghasilan dikecualikan sebagai objek pajak

Jasa Pekerjaan Bebas: tenaga ahli, seniman, olahragawan, pengajar, pengarang, agen iklan, pengawas proyek, perantara, pedagang asongan, agen asuransi, distributor MLM/direct selling.

6. JANGKA WAKTU PPh FINAL

SubjekJangka Waktu
WP Orang Pribadi7 Tahun Pajak
Koperasi, CV, Firma4 Tahun Pajak
Perseroan Terbatas (PT)3 Tahun Pajak

(Pasal 5 PP 23/2018)

7. TARIF, DPP, DAN CARA PENGHITUNGAN

Tarif: 0,5% dari peredaran bruto setiap bulan. (Pasal 2 ayat (2) PP 23/2018)

DPP: Peredaran bruto bulanan sebelum potongan penjualan/tunai. (Pasal 6 ayat (1)-(2) PP 23/2018)

Rumus: PPh = 0,5% Ă— peredaran bruto bulanan

Jika omzet > Rp4,8 M dalam tahun berjalan → tetap 0,5% sampai akhir tahun, tahun berikutnya tarif umum. (Pasal 7 PP 23/2018)

8. TATA CARA PEMBERITAHUAN

(Pasal 3 PMK-99/2018)

  • Pemberitahuan ke KPP/KP2KP/KPP Mikro atau saluran elektronik
  • Paling lambat akhir Tahun Pajak
  • Berlaku mulai Tahun Pajak berikutnya

9. PENYETORAN, PEMOTONGAN, DAN PELAPORAN

A. Setor Sendiri

Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya. KAP 411128 / KJS 420. (Pasal 4 ayat (2)-(3) PMK-99/2018)

B. Pemotongan/Pemungutan

Pemotong memotong 0,5% jika WP memiliki Surat Keterangan. (Pasal 4 ayat (7)-(8) PMK-99/2018)

  • Pemotong tidak memotong PPh Pasal 22 atas impor/pembelian barang
  • Disetor paling lama tanggal 10 bulan berikutnya

C. Pelaporan

SPT Masa paling lama 20 hari. Penyetoran dianggap pelaporan. Nihil tidak wajib lapor. (Pasal 4 ayat (4)-(6) PMK-99/2018)

10. SURAT KETERANGAN

Tata cara: Permohonan ke KPP (langsung, pos, elektronik). Terbit 3 hari kerja(Pasal 5-6 PMK-99/2018)

SubjekMasa Berlaku SK
WP Orang Pribadi7 Tahun Pajak
Koperasi, CV, Firma4 Tahun Pajak
Perseroan Terbatas3 Tahun Pajak

(Pasal 5 huruf a PP 23/2018 jo. Pasal 7 PMK-99/2018)

Pembatalan SK: Jika WP tidak memenuhi kriteria. (Pasal 8 PMK-99/2018)

11. KETENTUAN TAMBAHAN

Angsuran PPh Pasal 25

WP yang tidak lagi dikenai PPh Final wajib angsuran Pasal 25. WP lain diperlakukan sebagai WP Baru. (Pasal 9 PMK-99/2018)

Ketentuan Peralihan

Penghasilan sebelum 1 Juli 2018: tarif 1%. Penghasilan 1 Juli – 31 Des 2018: tarif 0,5%. Mulai 2019: tarif umum. (Pasal 10 PP 23/2018)

CONTOH KASUS

Contoh 1 — Perhitungan PPh Final: Tuan A (WP OP, pedagang) memiliki omzet Rp100 juta/bulan.

  • PPh terutang = 0,5% Ă— Rp100.000.000 = Rp500.000 per bulan
  • Jatuh tempo penyetoran: tanggal 15 bulan berikutnya

(Pasal 2 ayat (2) jo. Pasal 6 ayat (3) PP 23/2018)

Contoh 2 — Jangka Waktu: PT Maju terdaftar 2019, omzet Rp3 M/tahun.

  • Jangka waktu: 3 Tahun Pajak (2019, 2020, 2021)
  • Mulai Tahun Pajak 2022: tarif umum Pasal 17 UU PPh

(Pasal 5 PP 23/2018)