Bunga Obligasi

Partner Resmi

Less Summer
Less Summer

1. DASAR HUKUM

Regulasi Primer

  1. PP 91/2021 — Peraturan Pemerintah tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap. Ditetapkan dan berlaku 30 Agustus 2021. Status: Aktif. Tarif PPh Final 10% dari DPP untuk WPDN dan BUT. Mencabut PP 16/2009 (15%), PP 100/2013 (15%), PP 55/2019 (5%).

    REGULATION CHAIN: PP 16/2009 (15%) → PP 100/2013 (15%) → PP 55/2019 (5%, sementara) → PP 91/2021 (10%, konsolidasi final). PP 91/2021 langsung mencabut PP 16/2009 beserta kedua perubahannya. (PP 91/2021 — seluruh dokumen; khusus Pasal 2-4)

Regulasi Pelaksana (Tata Cara)

  1. PMK-85/PMK.03/2011 — Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Bunga Obligasi. Status: Aktif (telah diubah). Dasar hukum identifikasi pihak pemotong, DPP, batas waktu setor/lapor.
  2. PMK-07/PMK.011/2012 — Perubahan atas PMK-85/PMK.03/2011.

Catatan: PMK-85/2011 jo. PMK-07/2012 tidak dicabut oleh PMK-81/2024. Hanya Pasal 8 ayat (3) (sanksi keterlambatan) yang dicabut. Tata cara pemotongan/penyetoran/pelaporan tetap mengacu pada PMK-85/2011, sarananya via Coretax.

Dasar Hukum Umum

  1. UU PPh (UU 7/1983 jo. UU 36/2008 jo. UU 7/2021 HPP) — Pasal 4 ayat (2): Penghasilan tertentu dapat dikenai PPh bersifat final. Pasal 4 ayat (3) huruf h: Pengecualian objek PPh untuk dana pensiun tertentu.

2. TARIF & SUBJEK

2.1 Tarif PPh Final

SubjekTarifSifatDasar Hukum
WPDN (OP/Badan)10%FinalPasal 2(1)-(2) PP 91/2021
BUT (Bentuk Usaha Tetap)10%FinalPasal 2(1)-(2) PP 91/2021
Bank (didirikan di Indonesia & cabang bank LN)Tarif umum Pasal 17 UU PPhTidak finalPasal 3(1)b PP 91/2021
Dana Pensiun (syarat tertentu)Dikecualikan dari objek PPhPasal 3(1)a PP 91/2021

2.2 Perbandingan Tarif Historia

RegulasiMasa BerlakuTarif WPDN/BUT
PP 16/20092009 – 201315%
PP 100/20132013 – 201915%
PP 55/20192019 – 20215% (sementara)
PP 91/202130 Aug 2021 – sekarang10% (permanen)

2.3 KAP-KJS Coretax

KAPKJSKeterangan
411128401PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Diskonto/Bunga Obligasi dan Surat Utang Negara

(KAP-KJS PER-22/PJ/2021)

3. DEFINISI & OBJEK PAJAK

3.1 Definisi Obligasi (Pasal 1 PP 91/2021)

Surat utang, surat utang negara (SUN), dan obligasi daerah berjangka > 12 bulan, diterbitkan pemerintah maupun non-pemerintah, termasuk sukuk (obligasi syariah).

3.2 Definisi Bunga Obligasi

Imbalan berupa: bunga (kupon), ujrah/fee (sukuk), bagi hasil, margin, penghasilan sejenis, dan/atau diskonto.

3.3 Diskonto

Jenis ObligasiDiskonto
Dengan kuponSelisih lebih harga jual/nilai nominal di atas harga perolehan, tidak termasuk bunga berjalan
Tanpa bunga (zero-coupon)Selisih lebih harga jual/nilai nominal di atas harga perolehan
Diskonto negatif (rugi)Dapat diperhitungkan dengan DPP bunga berjalan saat penjualan yg sama

(Pasal 1, 2 ayat (3)-(4) PP 91/2021)

4. DASAR PENGENAAN PAJAK (DPP)

Jenis PenghasilanDPPDasar Hukum
Bunga dari obligasi kuponJumlah bruto sesuai masa kepemilikanPasal 2(3)a PP 91/2021
Diskonto dari obligasi kuponSelisih harga jual − harga perolehan, tidak termasuk bunga berjalanPasal 2(3)b PP 91/2021
Diskonto dari obligasi tanpa bungaSelisih harga jual/nominal − harga perolehanPasal 2(3)b PP 91/2021

Kompensasi diskonto negatif (Pasal 2 ayat (4) PP 91/2021): Jika rugi saat jual, kerugian diperhitungkan dengan DPP bunga berjalan pada penjualan yang sama. Jika masih negatif, tidak dapat dikompensasi dengan penghasilan lain.

5. PIHAK PEMOTONG & TATA CARA

5.1 Pemotong PPh Final

PihakSaat Pemotongan
Penerbit obligasi / kustodian (agen pembayaran)Jatuh tempo bunga/diskonto
Perusahaan efek, dealer, bank, dana pensiun, reksa dana (perantara)Saat transaksi pasar sekunder
Kustodian / subregistryJika transaksi langsung tanpa perantara & pembeli bukan pemotong
Penerima penghasilan (setor sendiri)Khusus obligasi pemerintah via BI-SSSS

(Pasal 4 PP 91/2021)

5.2 Batas Waktu & Pelaporan

KewajibanBatas Waktu
Setor oleh pemotongPaling lambat tanggal 10 bulan berikutnya
Setor sendiri (BI-SSSS)Paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya
Lapor SPT Masa UnifikasiPaling lambat tanggal 20 bulan berikutnya

(PMK-85/2011; Pasal 15-18 PMK-81/2024 jo. PMK-1/2026)

6. PENGECUALIAN

SubjekPerlakuanSyaratDasar Hukum
Dana PensiunDikecualikan dari objek PPhDisahkan Menkeu / izin OJK + memenuhi Pasal 4(3)h UU PPhPasal 3 huruf a PP 91/2021
Bank (Indonesia + cabang LN)Tarif umum Pasal 17 UU PPh (final 10% tidak berlaku)Bank yang didirikan di Indonesia / cabang bank LNPasal 3 huruf b PP 91/2021

7. CONTOH KASUS

Contoh 1: Bunga Kupon Obligasi Korporasi

Fakta: PT BBB (WPDN) memiliki 100 lbr obligasi PT AAA, nominal Rp10jt/lbr, bunga 12%/thn. Kupon tahunan Rp120.000.000.

Perhitungan: PPh Final = 10% × Rp120.000.000 = Rp12.000.000. Penghasilan bersih setelah pajak: Rp108.000.000.

(Pasal 2 ayat (1)-(3) PP 91/2021)

Contoh 2: Obligasi dengan Diskonto Negatif

Fakta: PT BBB beli obligasi Rp9.500.000/lbr (diskonto), jual Rp9.800.000/lbr + bunga berjalan Rp500.000/lbr, 100 lbr.

Perhitungan: Bunga Rp50jt + diskonto negatif (Rp20jt) = DPP Rp30jt. PPh = 10% × Rp30jt = Rp3.000.000.

(Pasal 2 ayat (3)-(4) PP 91/2021; Penjelasan)

Contoh 3: Obligasi Pemerintah — Setor Sendiri (BI-SSSS)

Fakta: Tuan X memiliki ORI025, kupon Rp20.000.000/thn, ditatausahakan via BI-SSSS.

Perlakuan: Setor sendiri PPh = 10% × Rp20jt = Rp2.000.000. KAP-KJS 411128-401, bayar max tgl 15.

(Pasal 4 ayat (2) PP 91/2021)

Contoh 4: Obligasi Diterima Bank (Pengecualian Final)

Fakta: Bank XYZ menerima bunga obligasi Rp500.000.000.

Perlakuan: Tidak kena final 10%. Bunga digabung penghasilan usaha → tarif umum Pasal 17 (22% badan).

(Pasal 3 huruf b PP 91/2021)

Contoh 5: Obligasi Diterima Dana Pensiun

Fakta: Dana Pensiun XYZ (disahkan Menkeu) menerima bunga obligasi Rp200.000.000.

Perlakuan: Dikecualikan dari objek PPh — tidak dipotong PPh.

(Pasal 3 huruf a PP 91/2021 jo. Pasal 4(3)h UU PPh)

Contoh 6: Zero-Coupon Bond (Diskonto Murni)

Fakta: PT CCC membeli obligasi tanpa bunga nominal Rp10jt seharga Rp8jt. Diskonto Rp2jt saat jatuh tempo.

Perhitungan: PPh Final = 10% × Rp2.000.000 = Rp200.000.

(Pasal 2 ayat (3) huruf b PP 91/2021)

8. RINGKASAN REGULASI CHAIN

PP 16/2009 (15%)
→ PP 100/2013 (15%) — perubahan pertama
→ PP 55/2019 (5%) — perubahan kedua, sementara
PP 91/2021 (10%) — KONSOLIDASI FINAL (30 Aug 2021)

Pelaksana:
PMK-85/PMK.03/2011 (tata cara)
→ PMK-07/PMK.011/2012
↓ (Pasal 8(3) dicabut)
PMK-81/2024 (Coretax, 31 Des 2024)
PMK-1/2026 (perubahan ke-4)

PP lain:
PP 55/2022 & PP 20/2026 → TIDAK mengubah PP 91/2021

Tarif historia:
2009-2013: 15% | 2013-2019: 15% | 2019-2021: 5% (sementara)
2021-sekarang: 10% (permanen)